Penelitian Universitas di Sulawesi Utara: 93 Persen Remaja di Kotamobagu Habiskan 3 Jam Bersama Game
Kotamobagu – Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim akademisi dari salah satu universitas di Sulawesi Utara mengungkapkan fakta mengejutkan terkait kebiasaan remaja di Kotamobagu. Berdasarkan hasil survei, tercatat 93 persen remaja di wilayah tersebut menghabiskan sedikitnya tiga jam setiap hari untuk bermain game, baik melalui ponsel pintar, komputer, maupun konsol permainan.
Penelitian ini dilakukan dalam kurun waktu tiga bulan, melibatkan lebih dari 500 responden berusia 13 hingga 18 tahun. Metode yang digunakan adalah penyebaran kuesioner serta wawancara mendalam dengan sejumlah pelajar SMP dan SMA di Kotamobagu. Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas remaja menjadikan game sebagai aktivitas utama setelah pulang sekolah.
dalam penelitian ini menjelaskan bahwa tingginya intensitas bermain game dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain akses internet yang semakin mudah, meningkatnya kepemilikan smartphone, serta tren sosial di kalangan remaja yang menjadikan game sebagai bentuk interaksi. “Game tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga sudah menjadi gaya hidup sebagian besar anak muda di Kotamobagu,” jelasnya.
Meskipun memberikan hiburan dan meningkatkan kemampuan strategi, penelitian ini juga menyoroti dampak negatif dari kebiasaan tersebut. Sebagian responden mengaku sering mengabaikan pekerjaan rumah, kurang tidur, hingga mengalami penurunan konsentrasi belajar karena terlalu lama bermain game. Bahkan, beberapa guru yang diwawancarai menyebut adanya korelasi antara penurunan prestasi akademik dengan intensitas bermain game yang tinggi.
Di sisi lain, orang tua yang menjadi bagian dari survei mengaku memiliki kesulitan dalam mengontrol waktu anak mereka. Beberapa orang tua mencoba memberikan batasan, namun kurangnya pengawasan dan kesibukan pekerjaan membuat aturan tersebut sering dilanggar. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi keluarga, terutama terkait dengan disiplin belajar anak.
Namun demikian, penelitian ini tidak serta-merta memandang game sebagai hal yang sepenuhnya negatif. Tim peneliti menilai bahwa game juga dapat menjadi sarana pengembangan kreativitas, kerja sama tim, hingga kemampuan berpikir kritis, asalkan penggunaannya dilakukan secara terukur dan seimbang. Oleh karena itu, rekomendasi yang diberikan adalah perlunya pendidikan literasi digital yang lebih intensif di sekolah-sekolah.
Pemerintah daerah Kotamobagu melalui Dinas Pendidikan pun menanggapi hasil penelitian ini dengan serius. Kepala Dinas Pendidikan setempat, Maria Sumolang, menyatakan bahwa pihaknya akan mempertimbangkan program sosialisasi mengenai manajemen waktu bagi pelajar. “Kami tidak bisa melarang anak-anak bermain game, tapi perlu ada pengaturan agar mereka tetap fokus pada pendidikan,” ujarnya.
Penelitian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi berbagai pihak, baik sekolah, keluarga, maupun pemerintah, dalam menyusun kebijakan terkait pola hidup sehat di era digital. Dengan keseimbangan yang tepat, game dapat menjadi sarana positif, bukan ancaman bagi perkembangan generasi muda di Kotamobagu.